amsterdam
Sepanjang jalan dari stasiun tampak ramai, trotoarnya lebar sekali, tapi agak gerimis, memang sesuai ramalan cuaca hari ini… , angin laut membawa titik-titik air hujan yang membasahi bumi. Cuman aku gak begitu paham, kenapa udara disini dingin terus menerus, padahal matahari bersinar terang. Waktu sepertinya berjalan lebih lambat, tapi aktivitas berjalan sesuai iramanya. Berjalan melewati toko-toko, banyak restoran disepanjang jalan, paling banyak chinese food, rasanya seperti lagi jalan-jalan di Bandung. Disuatu cafe terlihat seperti di film-film barat ,odel cowboy, memang kota pelaut, seperti bar tapi pakaiannya minim sekali. Seperti gerimis di Jakarta, namanya mendung tipis, kadang-kadang terang.. bisa foto-foto, ada sungai yang membelah kota semacam kanal dengan jembatan yang yang sudah familier bangunan khas Belanda yang kokoh yang banyak dibangun pada jaman dulu. Ada juga bangunan kuno halamannya luas sekali, banyak sekali turis yang berfoto bersama burung dara, bermain dihalaman yang luas inipun sudah senang, rupanya burung merpati di Belanda sama saja,.. doyan makan. Dijalan banyak sepeda bersliweran, ada yang pulang kantor, ada yang bernagkat kuliah, ada yang belanja. Orang berjalan ditrotoar tidak terlalu cepat, tampaknya lebih menikmati suasana. Rasanya ingin duduk-duduk seharian disini, lebih bebas daripada di Paris, bisa mengendapkan memori yang rasanya sudah terlalu penuh. Biasanya orang yang akan berkunjung ke suatu daerah selalu membayangkan lebih awal, seperti apa sih gunung bromo, ada lautan pasir, naik kuda, bisa lihat kawah, tangganya tinggi sekali, dan itu semuanya betul setelah melihat sendiri, antara bayangan dan kenyataan sesuai, klop. Dan pemandangannya memang indah, apalagi saat matahari terbit atau tenggelam di cakarawala, tak bosan rasanya mengagumi alam ciptaan Nya. Seperti apa sih Yogyakarta, jalan-jalan, naik andong, banyak becak, banyak yang jual batik, kotanya rame, jalan-jalan di malioboro waktu malam, membuat orang betah berlama-lama, bisa mengurai kembali memori sepanjang perjalanan hidup. Sebagai kota dengan tingkat kebudayaan yang tua, seperti tak terusik oleh hingar bingar metropolitan. Seperti mengenang masa lalu, bagaikan cermin yang melihat kerinduannya pada kebudayaan masa lalu, bagaimana hubungan sesama manusia yang tulus … “batik ini harganya berapa mbok?”. Tak heran kalau yogya termasuk dalam daftar favorit untuk kunjungan turis manca negara, nomor dua setelah bali, tempat para turis biasa berjemur di pantai kuta, nyaman seperti lesehan didepan rumah neneknya sendiri. Masyarakat Bali memang sangat sadar wisata, siap menerima tamu mancanegara yang akan berlibur. Tapi disini lain, perjalanan tidak menuju kesatu titik dengan waktu yang terukur, karenanya tidak ada bayangan sama sekali, hanya dikasih waktu 3 hari terserah mau kemana, tergantung isi dompetnya. Seperti orang yang terjun bebas dari udara, bukan semacam paket wisata yang ada buku panduannya. Karena itu tidak ada rencana perjalanan yang terinci, makanya harus merekam apa saja yang dilihat secara instan kedalam memori, agar bisa menceritakan kembali sesampainya ditanah air. Baru kemarin lihat menara eifel, jalan-jalan ditrotoar yang lebar disepanjang pertokoan, bangunan kuno, taman perancis, gedung opera paris yang terkenal. Belum lagi angan-angan, seperti apa didalam gedung opera, barangkali bisa bertemu dengan orang terkenal, bahkan artis yang memakai baju design terakhir, ingin juga melihat pasar tradisionalnya, kalo di belanda ini ingin melihat daerah tempat tinggal orang asal maluku, aku ingin bertemu dengan daniel sahuleka…, tolong.
Berjalan tanpa beban memang terasa enak, apalagi didaerah yang belum pernah dikunjungi, amsterdam. Tadi malam tidur diudara Paris yang dingin sambil membayangkan mau pergi ke amsterdam naik kereta sama teman-teman.. nikmatnya bukan main. Sekarang sudah sedang berjalan disepanjang jalan kota ini, banyak pemandangan yang tak terduga. Tapi sepanjang jalan banyak restoran yang sudah sangat mengundang selera, udara dingin dan gerimis kecil tentunya banyak menu seafood yang bisa menghangatkan badan. Tapi ketua tim tampak berjalan terus, tampaknya ada yang dituju.. disini ternyata ada rumah makan indonesia, tempat bisa makan sambil melepas lelah berlama-lama, dan untuk mengembalikan fungsi lidah yang sejak diparis makannya hanya asal untuk mengisi perut.
Tujuan utama di kota ini adalah jalan-jalan dimalam hari. Namanya turis ingin melihat sesuatu yang tidak ada dikampung halamannya. Dari hotel tidak terlalu jauh, cukup jalan kaki, dari hotel berangkat sesudah matahari terbenam. Suasana malam hari disini memang sedikit berbeda, daerah wisata khas negeri bahari, mungkin dulunya untuk pelaut yang singgah. Kalo untuk turis mungkin lebih senang melihat pertunjukannya yang beraneka rupa. Sepanjang jalan tampak padat, tapi orang tidak tampak tergesa-gesa, lebih menikmati suasana, mau makan dulu atau nonton dulu, semua sepakat nonton dulu.
Rencana di Belanda dua hari, masih ada sisa waktu satu hari satu malam, diskusi dilakukan di lobby hotel, sebetulnya bukan lobby karena tempatnya dilantai dua setelah naik tangga yang tinggi sekali, dekat reception ada beberapa meja kursi untuk minum kopi, dan suasananya hangat. Isunya hanya satu, mau lihat Belanda sampe puas, atau jalan lagi kenegara lain diwaktu yang tersia, suatu pilihan yang enak. Di belanda ada Volendam, kincir angin yang sering jadi inspirasi untuk lukisan, atau melihat negeri lain seperti jerman, belgia, itali atau swiss. Rasanya aku ingin melihat negeri lain. Ketua Tim memilih tetap di Belanda, pak Deri sang wakil ingin ke Belgia. Satu-satu ditanya, Bowo memilih tetap di Belanda, demikian pula Yusuf dan Armen, sedang aku memilih ikut pak Deri ke Belgia. Diskusi tidak bertele-tele dan berlangsung singkat, setelah terjadi kesepakatan masing-masing masuk kekamar, tapi kamarnya memang hanya satu, dan memang sudah diset untuk 8 tempat tidur. Tidak banyak yang dibicarakan dikamar, rupanya masing-masing sedang asik dengan pikirannya, hanya saja “majalah” yang di beli di Paris segera beredar dari tangan ketangan, yang pertama ketua tim tentunya. Kembali aku membayangkan perjalanan esok pagi ke belgia bersama pak Derry, seperti apa sih Belgia, kiranya dapat saya lanjutkan pada kesempatan berikutnya. salam.
