Oleh: cryta | Juni 13, 2009

Cerita perjalanan eropa 5

amsterdam

Sepanjang jalan dari stasiun tampak ramai, trotoarnya lebar sekali, tapi agak gerimis, memang sesuai ramalan cuaca hari ini… , angin laut membawa titik-titik air hujan yang membasahi bumi. Cuman aku gak begitu paham, kenapa udara disini dingin terus menerus, padahal matahari bersinar terang. Waktu sepertinya berjalan lebih lambat, tapi aktivitas berjalan sesuai iramanya. Berjalan melewati toko-toko, banyak restoran disepanjang jalan, paling banyak chinese food, rasanya seperti lagi jalan-jalan di Bandung. Disuatu cafe terlihat seperti di film-film barat ,odel cowboy, memang kota pelaut, seperti bar tapi pakaiannya minim sekali. Seperti gerimis di Jakarta, namanya mendung tipis, kadang-kadang terang.. bisa foto-foto, ada sungai yang membelah kota semacam kanal dengan jembatan yang yang sudah familier bangunan khas Belanda yang kokoh yang banyak dibangun pada jaman dulu. Ada juga bangunan kuno halamannya luas sekali, banyak sekali turis yang berfoto bersama burung dara, bermain dihalaman yang luas inipun sudah senang, rupanya burung merpati di Belanda sama saja,.. doyan makan. Dijalan banyak sepeda bersliweran, ada yang pulang kantor, ada yang bernagkat kuliah, ada yang belanja. Orang berjalan ditrotoar tidak terlalu cepat, tampaknya lebih menikmati suasana. Rasanya ingin duduk-duduk seharian disini, lebih bebas daripada di Paris, bisa mengendapkan memori yang rasanya sudah terlalu penuh. Biasanya orang yang akan berkunjung ke suatu daerah selalu membayangkan lebih awal, seperti apa sih gunung bromo, ada lautan pasir, naik kuda, bisa lihat kawah, tangganya tinggi sekali, dan itu semuanya betul setelah melihat sendiri, antara bayangan dan kenyataan sesuai, klop. Dan pemandangannya memang indah, apalagi saat matahari terbit atau tenggelam di cakarawala, tak bosan rasanya mengagumi alam ciptaan Nya.  Seperti apa sih Yogyakarta, jalan-jalan, naik andong, banyak becak, banyak yang jual batik, kotanya rame, jalan-jalan di malioboro waktu malam, membuat orang betah berlama-lama, bisa mengurai kembali memori sepanjang perjalanan hidup. Sebagai kota dengan tingkat kebudayaan yang tua, seperti tak terusik oleh hingar bingar metropolitan. Seperti mengenang masa lalu, bagaikan  cermin yang melihat kerinduannya pada kebudayaan masa lalu, bagaimana hubungan sesama manusia yang tulus … “batik ini harganya berapa mbok?”. Tak heran kalau yogya termasuk dalam daftar favorit untuk kunjungan turis manca negara, nomor dua setelah bali, tempat para turis biasa berjemur di pantai kuta, nyaman seperti lesehan didepan rumah neneknya sendiri. Masyarakat Bali memang sangat sadar wisata, siap menerima tamu mancanegara yang akan berlibur.  Tapi disini lain, perjalanan tidak menuju kesatu titik dengan waktu yang terukur, karenanya tidak ada bayangan sama sekali, hanya dikasih waktu 3 hari terserah mau kemana, tergantung isi dompetnya. Seperti  orang yang terjun bebas dari udara, bukan semacam paket wisata  yang ada buku panduannya. Karena itu tidak ada rencana perjalanan yang terinci, makanya harus merekam apa saja yang dilihat secara instan kedalam memori, agar bisa menceritakan kembali sesampainya ditanah air. Baru kemarin lihat menara eifel, jalan-jalan ditrotoar yang lebar disepanjang pertokoan, bangunan kuno, taman perancis, gedung opera paris yang terkenal. Belum lagi angan-angan, seperti apa didalam gedung opera, barangkali bisa bertemu dengan orang terkenal, bahkan artis yang memakai baju design terakhir, ingin juga melihat pasar tradisionalnya, kalo di belanda ini ingin melihat daerah tempat tinggal orang asal maluku, aku ingin bertemu dengan daniel sahuleka…, tolong.

Berjalan tanpa beban memang terasa enak, apalagi didaerah yang belum pernah dikunjungi, amsterdam.  Tadi malam tidur diudara Paris yang dingin sambil membayangkan mau pergi ke amsterdam naik kereta sama teman-teman.. nikmatnya bukan main.  Sekarang sudah sedang berjalan disepanjang jalan kota ini, banyak pemandangan yang tak terduga. Tapi sepanjang jalan banyak restoran yang sudah sangat mengundang selera,  udara dingin dan gerimis kecil tentunya banyak menu seafood yang bisa menghangatkan badan. Tapi ketua tim tampak berjalan terus, tampaknya ada yang dituju.. disini ternyata ada rumah makan indonesia, tempat bisa makan sambil melepas lelah berlama-lama, dan untuk mengembalikan fungsi lidah yang sejak diparis makannya hanya asal untuk mengisi perut.

Tujuan utama di kota ini adalah jalan-jalan dimalam hari. Namanya turis ingin melihat sesuatu yang tidak ada dikampung halamannya. Dari hotel tidak terlalu jauh, cukup jalan kaki, dari hotel berangkat sesudah matahari terbenam. Suasana malam hari disini memang sedikit berbeda, daerah wisata khas negeri bahari, mungkin dulunya untuk pelaut yang singgah. Kalo untuk turis mungkin lebih senang melihat pertunjukannya yang beraneka rupa. Sepanjang jalan tampak padat, tapi orang tidak tampak tergesa-gesa, lebih menikmati suasana, mau makan dulu atau nonton dulu, semua sepakat nonton dulu.

Rencana di Belanda dua hari, masih ada sisa waktu satu hari satu malam, diskusi dilakukan di lobby hotel, sebetulnya bukan lobby karena tempatnya dilantai dua setelah naik tangga yang tinggi sekali, dekat reception ada beberapa meja kursi untuk minum kopi, dan suasananya hangat. Isunya hanya satu, mau lihat Belanda sampe puas, atau jalan lagi kenegara lain diwaktu yang tersia, suatu pilihan yang enak. Di belanda ada Volendam, kincir angin yang sering jadi inspirasi untuk lukisan, atau melihat negeri lain seperti jerman, belgia, itali atau swiss. Rasanya aku ingin melihat negeri lain. Ketua Tim memilih tetap di Belanda, pak Deri sang wakil ingin ke Belgia. Satu-satu ditanya, Bowo memilih tetap di Belanda, demikian pula Yusuf dan Armen, sedang aku memilih ikut pak Deri ke Belgia. Diskusi tidak bertele-tele dan berlangsung singkat, setelah terjadi kesepakatan masing-masing masuk kekamar, tapi kamarnya memang hanya satu, dan memang sudah diset untuk 8 tempat tidur. Tidak banyak yang dibicarakan dikamar, rupanya masing-masing sedang asik dengan pikirannya, hanya saja “majalah” yang di beli di Paris segera beredar dari tangan ketangan,  yang pertama ketua tim tentunya. Kembali aku membayangkan perjalanan esok pagi ke belgia bersama pak Derry, seperti apa sih Belgia, kiranya dapat saya lanjutkan pada kesempatan berikutnya. salam.

Oleh: cryta | Mei 23, 2009

Cerita perjalanan eropa 4

kereta paris-amsterdam

Perjalanan Paris-Amsterdam pada sabtu subuh pagi hari mengingatku pada perjalanan Jakarta-Surabaya, kereta yang melaju kencang, udara yang sejuk, dan pemandangan di kanan kiri lewat jendela, tapi perjalanan ini melewati 4 negara, Perancis, Luxemburg, Belgia, Belanda. Seperti ini pula barangkali perjalanan para diplomat yang sedang melakukan perjalanan di eropa, atau peserta Paris Club yang sedang negosiasi dengan negara donor pada jaman dulu. Perjalanan ini hanya sering kubaca di koran, yang menorehkan angan-angan kapan bisa naik kereta paris amsterdam. Karena itu masing-masing lebih banyak diam, tampaknya larut dalam angan-angan, terhanyut, seperti mimpi. Tadi malam masih di paris benah-benah baju mana yang dibawa dan mana yang ditinggal, sementara koper akan dititip dihotel untuk nantinya kembali hari minggu. Sepertinya tidak ada waktu yang tersisa untuk istirahat. Kemarin setelah puas citi tour pulang jalan kaki, tapi sudah lebih familier, setelah MCD belok kiri ada toko boneka. Istirahat di hotel, tentu saja tidak terus tidur sampai pagi, 6 dari 6 orang setuju untuk jalan-jalan melihat  paris di waktu malam, tentunya akan berbeda pada siang hari, malam hari barangkali orang perancis agak santai lihat-lihat baju atau beli gula kopi. Mall nya tidak jauh dari hotel, barang yang dipajang sama saja, baju, sabuk, sepatu, mall nya bahkan tidak mewah-mewah amat dibanding dengan PIM. Tapi banyak toko khusus jual barang bermerek, kalo yang ini bisa untuk pamer.. beli dimana jamnya nih ..,  nggak kemarin waktu jalan-jalan diparis.. ditoko pojokan itu lho yang cat nya kuning,  murah kok. Tapi semurah-murahnya bisa untuk ngecat rumah. Bagiku mending beli dikaki lima, harganya lebih murah, bilang aja ini beli di toko pojokan yang catnya warna ijo. Di kaki lima memang khusus untuk beli sovenir seperti kaos, jam, jaket, pernak pernik,  bisa untuk oleh-oleh. Tapi niatan belanja belum ada, masih terkesima dengan keramaian paris malam, seperti di film-film, tapi gak ada yang seperti film pretty women. Ada juga di beberapa blok dikompeks pertokoan yang menampilkan pertunjukan ala kaki lima, mau rasanya jalan-jalan terus nongkrong sampai pagi,  tapi malam ini harus beres-beres baju, tapi bowo, armen sama yusup ngajakin lihat menara Eifel dari dekat, aku tahu pasti jalan kaki maka aku memilih stay dihotel sama ketua tim dan wakilnya pak Deri. 

Naik kereta sama saja dengan lihat peradaban, dari jendela terlihat hamparan kebun tak berpenghuni, semuanya terlihat sepi, tidak tampak adanya kegiatan para petani, atau rombongan anak yang sedang bermain, tapi sempet lihat ada anak-anak muda lagi main bola di lapangan, baru kali ini ada sendi=sendi kehidupan, selebihnya sepi kembali. Gambaran desa seperti yang sering terlihat  pada perjalanan kereta  di negeri sendiri tidak terlihat. Yang tampak seperti pabrik yang mungkin khusus dialokasikan jauh dari kota. Ada juga peternakan, sesekali terlihat kebun rumah kaca, cara bertani modrn tapi tidak terlihat petaninya, tampaknya orang sini lebih seneng dirumah daripada bernyanyi di kebun sendiri.

Beberapa stasiun yang dilalui tidak tampak adanya konsentrasi penumpang, paling-paling penumpang naik satu turun satu. Orang jualan juga tidak ada, kereta hanya berhenti sesaat pada setiap stasiun yang dilalui. Bahkan stasiun Luxemberg dan Belgia tidak tampak adanya kesibukan, semua tampak seperti apa adanya. Setelah memotret beberapa moment yang dianggap perlu kembali masing-masing menikmati perjalanan. Ada satu yang hampir lepas dari perhatian, keretanya dari tadi tampaknya kosong, maka duduk pun berpindah-pindah dari jendela satu ke jendela lainnya, memotret moment-moment penting. Keretanya sebetulnya tidak mewah-mewah amat, tidak jauh-jauh dari argo anggrek, diatas 2 tingkatlah. Aku duduk dekat bowo, tadi pagi dia agak kesiangan, maklum malamnya bertiga jalan lihat eifel nggak tahu pulang jam berapa.  Tapi untuk tidur di kereta rasanya juga sayang, kapan lagi bisa lihat moment seperti ini lagi, makanya setiap stasiun dipotret, ada pabrik dipotret, rumah di belgia dipotret, ada kota di belgia dipotrt.  

Kereta berjalan dengan irama yang tetap. Tadi pagi aku lupa-lupa ingat, perjalanan dari hotel ke stasiun naik taksi lewat jalan yang masih sepi, tapi gak hapal nama jalannya, yang aku ingat cuma gadhu notrh. Sampai stasiun masih agak pagian, tapi stasiun kota tampak ramai, luas dan lega, mungkin 6 kali lobby stasiun gambir, maklum stasiun antar negara. Banyak yang bepergian, ada kelompok turis dari asia tengah, ada dari afrika, bule banyak, tampaknya keluarga. Kantin stasiun sudah lama buka, sudah banyak yang duduk, tapi makanan minuman standar yaitu kopi mix, roti dan minuman ringan. Beli karcisnya agak repot, mana yang keamsterdam, tandanya tidak begitu jelas, tapi kalo lebih teliti ada sih tandanya. Jalur keretanya dilantai atas, lebih luas lagi dari stasiun gambir, mungkin ada 15 jalur kereta, jurusan mana tinggal lihat di layar monitor, karcis langsung masuk di ceck point, aku tidak terbiasa, biasanya kan ditanya kondektur mana karcisnya. Kondekturnya orang bule dan senyumnya ramah, sepertinya siap menjawab kalo ditanya.

Kereta   agak melambat, dari jendela tampak rumah-rumah orang belanda, agak lain bentuk rumahnya tapi model tetap sama, rumah tanpa halaman. Kereta berjalan pelan masuk stasiun kota amsterdam, seperti biasanya baru ingat barang bawaannya, tapi tampaknya sudah lebih familier, keluar satu-satu, seolah tidak tampak adanya kegamuman, hanya begitu keluar stasiun pada ribut pasang tustelnya. Stasiun kota tampak ramai, hari sudah menjelang siang, suhu sama dengan paris sekitar 15 derajad. Yang pertama terlihat adalah trem kota, yang menyusuri sepanjang jalan-jalan kota. Amsterdam tampaknya lebih hidup tapi tak se elegan paris, maklum ini bukan kota buidaya tapi kota pedagang dan pelaut. Sepanjang jalan yang dilalui tampak ramai, kegiatan kantoran agak terlihat, orang kerja naik sepeda yang lalu lalang, angkutan barang, rasanya lebih familier disini, maklum kata orang induk semang. Kegiatan pertama adalah menukar dolar ke euro, dan jalan menyusuri kota sambil cari mana tempat untuk makan siang, banyak cafe tapi seperti di film koboy. Berhubung sudah cape ngetiknya, dan agar dibacanya lebih enak, maka untuk mencari makan siang yang enak akan dilanjutkan pada cerita berikutnya. salam.

Oleh: cryta | Mei 17, 2009

Cerita perjalanan eropa 3

Hari pertama

Turun dari biskota kira kira pukul 9 pagi waktu paris, setelah  memakan waktu sekitar 30 menit dari bandara melalui jalan yang cukup ramai. Aku sempet tertegun, apa di paris gak ada terminal, tidak seperti di negeri sendiri. Tadi bis berhenti dipinggiran perempatan jalan yang cukup ramai, turun dari bis sambil membawa koper masing-masing. Sebetulnya aku agak shock, apakah aku baru saja menginjakan kaki di kota Paris?, sebuah kota dunia yang banyak disebut orang, yang tak pernah dilewatkan apabila wisata ke eropa. Namun ketika  terpandang olehku bangunan kuno dikanan kiri jalan, dan udara yang sejuk bahkan disiang hari, menyadarkanku bahwa ini memang kota Paris, tempat yang sudah aku impikan sejak dari tanah air. Orang berlalu lalang di trotoar namun tidak seorangpunpun ambil peduli. Pengen rasanya ada warung kopi, bisa ngopi dulu bisa istirahat sambil ngobrol. Disepanjang trotoar ini kulihat deretan bangunan kuno antik, susah membedakan mana kantor mana bangunan kuno.   Tampaknya tidak ada kantor, yang kulihat seperti deretan musium, yang harus dilindungi berkaitan dengan sejarah. Perlu diketahui disini kayaknya tidak ada bajay yang mangkal, kalau ada kan gampang, pak ke gardu north berapa, tidak perlu nyeret-nyeret koper begini, tapi temen-temen kayaknya tidak ada yang mengeluh, sama asik dengan pikirannya masing-masing. Setelah melewati 2 perempatan sampailah didepan sebuah hotel, tidak mewah-mewah amat, bahkan tidak ada lobby nya, tapi semalam disini 2 juta, untuk kamar 2 orang yang biasa, maklum di jantung kota paris, kira-kira bisa disamakan dengan jalan sabang. 

Seperti sudah janjian sebelumnya, begitu sampai dikamar langsung ganti baju,  nyiapin tustel. Kayaknya gak ada yg niatan mau tidur siang, soalnya begitu dibawah temen2 sudah ngumpul, ketawa cekikikan, model2 turis asia. Tanpa menunggu lama rombongan mulai berangkat, entah kemana yang penting berangkat. Disebelah hotel ada toko boneka, biasa ingat anak, tapi begitu lihat harganya langsung keluar ngacir. Perjalanan menyusuri trotoar didaerah pertokoan sama saja sebetulnya seperti jalan di jalan sabang tapi gergetnya beda, soalnya tidak setiap saat bisa kesini sehingga seperti mereguk kepuasan sebanyak-banyaknya, padahal orang sini kayaknya biasa saja, jalan juga gak nengok-nengok acan. Di kios majalah ada yang jual  playboy, pantesan bowo sudah nyenggol-nyenggol aja dari tadi, dipurwokerto memang gak ada.  Di kaki lima juga banyak yang jual souvenir seperti jam tangan, pernak-pernik, gantungan kunci, jaket, kaos, mungkin mereka tahu ini biasanya turis asia paling seneng beli yang model beginian. Tapi niatan beli memang belum ada, masih terkesima keindahan kota, takut ada yang gak sempet dilihat. Entah berapa sudah berjalan, gak ada yang ambil inisiatip mau kemana mau kemana, ketua tim pak Bambang juga masih belum keluar instruksinya, baru ketika ada bus tingkat wisata model atasnya terbuka semua baru sadar, gak perlu jalan begini sampai gempor, lihat kota diatas bis  terbuka tentu lebih enak, dan lebih terasa turism nya. 

Aku betul-betul tak menyangka bahwa bis ini mengelilingi kota paris, jalur wisata city tour, pantes aja yang naik juga turis dari mana-mana, ada dari pakistan, dari amerika, dari china. Citi tour ddari bis lantai atas memudahkan melihat-lihat kota, baru terlihat kota paris yang sesungguhnya. Sungai Rhein, atau sungai apa, yang membelah kota, ada wisata airnya. Bus menyusuri sungai diantara pohon, lalu lintas tidak begitu padat, bus sengaja berjalan tidak terlalu cepat. Kegiatan kota seolah menyatu dengan jalur wisata, hampir tak terlihat moda angkutan barang, mungkin jalur industri sudah memiliki jalannya sendiri, atau memang karena ini hari sabtu. Lepas dari daerah pertokoan sudah mulai tampak tempat-tempat wisata, ada gedung halaman luas, banyak burung merpatinya, tampak pula konsentrasi touris yang berkerumun. Ada juga tempat seperti pasar, banyak kaki limanya. Rasanya tidak sempat untuk bertanya-tanya, ini tempat apa, ini gedung apa yang banyak patungnya, ada gedung opera paris yang terkenal itu, ada gedung halaman luas yang pohonnya tertata rapi seperti yang aku lihat modelnya di kota bunga. Tak satupun pemandangan itu terlewat dari lensa kamera, merekam sesuai yang ada dipikirannya, untuk diceritakan kepada keluarga tersayang dirumah.

Bus masih berjalan perlahan-lahan, satu dua penumpang diatas bertambah, ada juga yang turun, ada turis dari pakistan dan jepang. Sama seperti turis asia lainnya,  mereka berkelompok, dan masing-masing membawa kamera, merekapun tak henti-hentinya merekam apa yang dilihatnya, kadang juga berfoto bersama bila melihat bangunan terkenal dunia, atau melihat pemandangan yang menakjubkan. Bus meninggalkan kota menuju keluar setelah melewati Gerbang Paris, tampaknya menuju keluar kota, banyak bangunan bersejarah yang rata-rata berhalaman luas, barangkali menyimpan misteri milik para bangsawan masa lalu, bangunan peninggalan masa lalu. Sayup-sayup terlihat menara eifel, dari jauh sudah terlihat kerangka nya, namun setelah dekat ternyata halamannya luas, bangunannya tinggi menjulang. Apa yang menyebabkan banyak orang datang kesini, mereka berkerumun dibawah menara namun hanya terlihat sepintas karena bus sudah berbalik arah mengikuti arus lalu lintas. Kesempatan yang hanya sekejap tentu saja tidak dilewatkan untuk merekam meskipun hasilnya tidak begitu bagus. Dari sela-sela pohon masih kucoba untuk melihat kerumunan orang dibawah menara, apa ada orang yang menjual teh botol, atau warung kopi, namun bus sudah melaju kembali kembali ke awal. Sore ini kembali ke hotel, besok rencana akan ke amsterdam, jadi koper ditinggal dulu di hotel Paris. Selanjutnya Amsterdam. salam.

Oleh: cryta | Mei 2, 2009

Cerita perjalanan Eropa-2

(santai sejenak setelah mikirin negara terus… he he)

Perjalanan di pesawat

Perjalanan di pesawat yang memakan waktu 10 jam mengingatkan aku pada acara kondangan atau sedang melayat, duduk berhimpitan tanpa tau harus berbuat apa, menunggu tidak tahu apa yang ditunggu. Pada awalnya clingukan dan main mata dengan sesama teman, lihat layar monitor.. sampai seberapa jauh perjalanan melintasi pulau-pulau. Pikiranku melayang ke jaman dulu. Dahulu, sekitar abad 18, dizaman Ratu Willhelmina, kompeni dibawah pimpinan kapten Murdoks, menyeberangi lautan dengan menggunakan kapal, dan untuk sampai ke Indonesia bisa memakan waktu berbulan-bulan, menempuh badai menyeberangi lautan lepas, terkadang dihadang ombak yang menghempaskan ke pantai. Di pesawat belanda ini, mengingatkan kembali pada kompeni, yang caci makinya lewat puisi masih mendengung di telinga, kata-kata .. enyah kau penjajah, terlebih puisi ciptaan Khairil Anwar dengan judul “antara karawang bekasi”, rasanya kepingin mengemplang kepala orang belanda sampai kapok.

Rasanya tidak mungkin clingukan terus menerus, penumpang pada umumnya sepertinya sopan santun, tidak mengganggu orang lain, membaca sekedarnya lalu ditaruh kembali ketempatnya dengan rapih tanpa merobek satu halamanpun. Batukpun pun hanya sesekali dimana perlu. Tingkah pramugari baik laki perempuan jauh dari gambaran kompeni jaman dulu, yang menganggap orang Indonesia ekstrimis. Dengan tutur kata yang sopan dan dibuat seramah mungkin .. cofee or tee sir..,  mereka melayani penumpang bagaikan sanak kadang sendiri. Mau jus apel barangkali, atau dilain waktu perlu kopi atau teh, Dipersilahkan mendengarkan musik kalo mau, tidak mau juga tidak apa-apa. Hal ini mengingatkanku pada dunia nyata. Semua negara berlomba untuk menampilkan sisi budaya yang terbaik, mana yang lebih beradab diantara bangsa-bangsa didunia ini. Pancasila kurang apa, tapi demokrasi sering disalahartikan sebagai kebebasan yang seluas-luasnya, sulit membedakan mana yang benar, tapi gampang dilihat siapa yang bayar. Pembelokan makna seringkali terjadi, sepakbila tetap bernama sepakbola, kecuali penonton ikut nimbrung sambil bawa pentungan, dan namanyapun berubah menjadi tawuran. Anehnya wasit ikut lari terbirit-birit.., hukum sering tidak berdaya.

Terlena tidak terlena, tapi rasanya aku tertidur barang beberapa lama, dan baru terbangun ketika pramugari membagikan anduk hangat untuk membasuh muka. Aku agak heran, biasanya tiap sebentar aku pergi ke kamar mandi, barang kali mengikuti nasihat Bowo temen seperjalanan … jangan minum banyak-banyak nanti kencing melulu. Dilayar monitor terlihat pesawat sudah melewati Turki, dan sudah mendekati benua eropa. Tampak dimonitor negara negara yang akan kukunjungi.. belanda, jerman,  perancis. Seperti apa sih negaranya. Bayanganku akan mengunjungi negara kerajaan tapi penuh dengan pemain sepakbola jaman dulu seperti marco van basten, pemain tenis crist evert. Kulihat Bowo tampaknya juga sudah bangun, ketika memandangku dia tersenyum kecil, barangkali membayangkan sebentar lagi akan mendarat di paris. Kulihat armenius biasa-biasa saja, seperti layaknya pergi ke jawa saja.

Seperti layaknya sebuah cerita pendek…, maka selanjutnya adalah gambaran sewaktu pesawat sudah berada diatas perancis: “kubuka tirai jendela, sinar   mentari menyergap ruangan, kulihat dibawah hamparan pulau dan laut yang membelah dari barat sampai timur. Tidak sekalipun kulihat hamparan sawah ladang, diantaranya membentang jalan bebas hambatan dari ujung keujung, inilah seperti yang sering kulihat di film, sebuah mobil sport berhenti disebuah kota kecil ditengah padang yang luas. Tampak sebuah danau dengan perkampungan kecil disekelilingnya, itulah barangkali Little house in the prairy.
Deretan gedung dan bangunan tampak samar-samar menandai adanya sebuah kota, inilah kota paris barangkali. Sekali lagi Bowo memandangku, barangkali mau bilang Git.. sudah sampai. Akupun melihat kebawah, memang bayangan semakin nyata, sebuah bandara, sebuah kota dunia yang tak pernah tidur, Paris. Dan pesawatpun mendarat di bandara.  (Selanjutnya akan dilanjutkan dengan hari pertama dst. salam).

Oleh: cryta | April 18, 2009

celotehan pemilu

PEMILU 2009

(cepat sekali) Semula sesuai urutannya adalah cerita mengenai kesibukan masing-masing komponen yang terlibat langsung dengan penyelenggaraan pemilu kali ini. Namun prosesnya berlangsung amat cepat, sehingga sampai sampai hampir selalu tertinggal berita yang riuh rendah. Untuk mengejar ketinggalan berita maka cerita lanjut dalam bentuk potongan pendek.

(mencari kata) Saya berhari-hari mencari kata-kata,  apa kata yang pas untuk  merangkum keriuhan paska pemilu 2009. Kata-kata yang sering terdengar akhir-akhir ini adalah “karut marut”, KPU, DPT,  tanggung jawab, hasil perolehan, caleg, dll masih banyak lagi. Dan saya tidak dapat menghitung berapa kali kata-kata itu disebut, entah di teve dan surat kabar, baik surat kabar nasional maupun daerah, juga dibicarakan di warung kopi maupun elit politik. Apa makna kata-kata itu dan kaitannya dengan apa tentunya kita sudah sama-sama mahfum, tentunya tidak perlu lagi dijelaskan lagi misalnya kata “hasil perolehan” adalah dalam kaitannya dengan “hasil perolehan ekspor non migas tahun ini…”,  tentunya tidak ada hubungannya sama sekali. Dan ada lagi kata-kata sampingan yang menyusul kemudian seperti stress, proses hukum, mundur, diulang.. dan masih banyak lagi. Sebetulnya saya ingin mengulas satu persatu namun tentunya akan ketinggalan berita yang berkembang cepat. 

(nyaris) Banyaknya komentar dari suara masyarakat menandakan bahwa penyelenggaraan pemilu kali ini membuat orang berdebar-debar yang cenderung ke arah geregetan. Ibarat mau kawinan sudah menjelang hari H masih banyak yang belum selesai persiapannya seperti: Undangan, kurang tiga hari masih banyak undangan belum dikirim, gak tahu siapa yang salah tapi masalahnya “undangan harus segera dikirim” walau hujan lebat sekalipun, kalau yang tempatnya jauh ya harus pokoknya harus dikirim, entah kilat super khusus atau pakai kurir, namun masalahnya lagi siapa saja yang diundang masih belum klear, masih ada nama-nama yang salah alamat. Mengenai catering datangnya juga pas pada detik-detik terakhir, kalo nyasar ketempat lain nanti terlanjur dimakan oleh orang yang tidak berhak.  Meskipun pada akhirnya dapat dilangsungkan perhelatan namun pekerjaan yang dilakukan buru-buru tentunya mengandung banyak kelemahan, dan kata yang tepat adalah nyaris batal. 

   (masih ada masalah) Kalau anak sudah diberi uang untuk bayar SPP dan sudah berjanji, tapi ternyata dipakai untuk beli eskrim, berhubung anak sendiri maka dapat diomelin habis-habisan, biasanya ditabok pantatnya sampai merah. Tapi kemudian anak tadi minta uang lagi untuk bayar SPP …, tentunya orang tua sudah tidak percaya, walaupun anak itu bilang “saya berjanji”, tentunya akan menyuruh kakanya atau oom nya untuk melaksanakan tugas itu, yang diperlukan orang tua adalah jaminan kepastian. Seperti kalo kita bekerja kan dinilai apa sudah sesuai harapan pimpinan, diatas harapan, atau dibawah harapan,  kalo dibawah harapan ya gaji berkurang. Dan yang diharapkan masyarakat adalah jaminan kepastian bahwa pilpres mendatang sesuai harapan, dan rasanya sampai saat ini masih menunggu apa yang akan dilakukan kemudian dalam pilpres mendatang.  

(motivasi) Apa sih yang membuat orang getol banget untuk bikin partai, untuk jadi calon legislatif ?, menjadi anggota dewan yang terhormat. Kalo melihat partai dan janji caleg selalu untuk kepentingan bangsa, apa sih persisnya ”untuk kepentingan bangsa?, seperti kata yang sering kita dengar “mengisi kemerdekaan” yang kadang terlupa apa persisnya, apa terjebak dalam kerutinan sehari-hari sudah termasuk dalam mengisi kemerdekaan, atau ada cara yang lebih baik?. Salah satu profesi yang dirasakan manfaatnya langsung bagi rakyat adalah memang menjadi eksekutif (pelayan masyarakat/pamong) atau menjadi anggota dewan, karena yg ini menyangkut arah pembangunan nasional kedepan, anggaran yang pro rakyat, pendidikan ditingkatkan, pembangunan daerah tertinggal, listrik masuk desa agar pengetahuan merata, dan masih banyak lagi pekerjaan yang mulia lainnya. Untuk menjaring apa yang diperlukan rakyat maka anggota dewan harus turun ke daerah, tidak saja didaerah pemilihannya namun juga harapan rakyat secara keseluruhan. Untuk itu maka anggota dewan harus memiliki semangat membangun yang tinggi, rela bekerja keras, dan ini tidak dimiliki setiap orang, tentunya orang yang memiliki kriteria, persyaratan tertentu saja. Meskipun semangat membangun bangsa agar bangsa ini menjadi adil makmur ada dihati setiap orang, namun semangat membangun yang mengebu-gebu memang harus disalurkan dengan menjadi anggota dewan, sehingga dapat dirasakan manfaatnya bagi rakyat banyak. Namun bagaimana kalo tidak menang?, jangan sampai   kalo menang akan membangun bangsa, kalo tidak terpilih ya masa bodoh lah.., hal ini tentunya jangan sampai terjadi. Semoga.      

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.